Minggu, 18 Oktober 2015

Hari Ulos Nasional

Hai.. hai semua.. apakabar.. ^^

Kemarin kami pergi ke Taman Mini Indonesia Indah.. disana kak Qilla ingin sekali naik kereta.. Nah saat kita menunggu kereta, saya melihat ada baliho besar bertuliskan Hari Ulos Nasional... Apakah itu?? Penasaran..!? Karena itulah, usai naik kereta kunjungan kami berikutnya adalah pergi kesana..


Yiippiii.. ini kesempatan saya untuk mengetahui apa itu Ulos.. Ya! Panitia Komunitas Peduli Sumatra Utara (KOPI SUMUT) sedang membuka acara ini, saat saya datang.. wiih hampir semua pengunjung menggunakan ulos lho.. 

ULOS dari bahasa asalnya berarti kain, yang dikembangkan oleh masyarakat Batak, Sumatra Utara. Mangulosi adalah suatu kegiatan adat yang penting bagi orang batak seperti upacara pernikahan, kelahiran dan dukacita, dimana ulos menjadi bagian adat yang selalu diikutsertakan. Seperti inilah contoh beberapa ulos yang dipajang di rumah adat tersebut.


Tanggal 17 Oktober 2014, pemerintah provinsi Sumatra Utara telah menerima sertifikat tujuh warisan budaya tak benda dari UNESCO diantaranya ada Ulos (Batak Toba), Merdang Merdem (Karo), Marahoi (Melayu), Serampang Dua Belas (Melayu), Huda-huda (Simalungun) dan Omo Hada (Nias).

Dan mengapa Ulos disebut sebagai tak benda? Padahal ulos adalah benda.. Ini dikarenakan Ulos seperti halnya Batik, yang diambil adalah nilai kebudayaannya.. sesuatu yang penting untuk dilestarikan, yang mencakup seperti tehnik pembuatannya, penggunaan kain tersebut, dan lain sebagainya.. 

Waaw.. hari ini saya baru tahu lho, ada aturan dalam penggunaan Ulos.
1. Natoras tu ianakhon, Ulos hanya diberikan kepada kerabat seperti orang tua kepada anak.
2. Ragihotang, Ulos diberikan kepada hela ( menantu laki-laki).
3. Siabithonon, Ulos yang digunakan sebagai baju atau sarung.
4. Sihadanghononhon, Ulos yang diletakkan di bahu
5. Sitalitalihononhon, Ulos sebagai pengikat kepala.

Lihat, beberapa tamu maupun pengunjung yang mengikuti Tor-Tor semua menggunakan ulos yang diletakkan di bahu seperti Ulos Sirara, Ulos Sumbat, Ulos Bolean, Ulos Mangiring, dan lain sebagainya... Lalu yang dikenakan dibadan seperti Ulos Ragidup, Ulos Sibolang, Ulos Runjat, Ulos Jobit dan lainnya.



Inilah ibu Joyce, saat sesi wawancara dengan salah satu statiun televisi swasta.. 


Nah, disini Ir Joyce Mellisa Sitompul Manik juga menggelar fashion dengan menggunakan ulos, baik yang asli ditenun maupun yang dicetak mesin.. Karya yang cantik bukan..




Yup.. saya sedang membayangkan, ya apa jadinya jika ulos-ulos ini dijadikan patchwork ya.. hmm, pasti seru! Entah kapan.. mungkin suatu saat nanti.. ^^ Semoga ini menjadi inspirasi quilters lainnya dalam berkarya dan semoga kita bisa mewujudkan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Ulos Nasional..

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KainDanPerjalanan yang diselenggarakan Wego

2 komentar:

  1. pasti seru.. dengan warna yang berwarna-warni...

    salam

    BalasHapus

Terima Kasih Sudah Berkunjung di Kreasi Bundae Qilla